Dari tanah Banjar hingga puncak pimpinan: Jejak luar biasa KH. Idham Chalid

Nasional 18 Jul 2026 06:37 3 min read 19 views By Jbn

Share berita ini

Dari tanah Banjar hingga puncak pimpinan: Jejak luar biasa KH. Idham Chalid
Selama 28 tahun memimpin NU, KH. Idham Chalid senantiasa tampil dalam tiga wujud peran sekaligus

jbn-KILAS BALIK , Sedikit sekali tokoh bangsa yang memiliki rekam jejak pengabdian dan keberagaman peran selain almarhum KH. Idham Chalid, Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

 

Sosok yang lahir pada 27 Agustus 1922 di Setui, wilayah dekat Kecamatan Kotabaru, bagian tenggara Kalimantan Selatan ini mencatatkan nama emasnya dalam berbagai lintasan kehidupan berbangsa dan berorganisasi.

 

Sebagai anak sulung dari lima bersaudara, Idham Chalid tumbuh dalam lingkungan keluarga yang taat.

 

Ayahnya, H. Muhammad Chalid, adalah seorang penghulu yang berasal dari Amuntai, Hulu Sungai Utara, berjarak sekitar 200 kilometer dari Banjarmasin.

 

Kiprah almarhum sungguh beragam dan luar biasa. Selama 28 tahun memimpin NU, KH. Idham Chalid selalu tampil dalam tiga wujud peran sekaligus: sebagai pemimpin organisasi masyarakat, pemimpin partai politik, dan pejabat negara.

 

Bahkan beliau tercatat pernah memimpin tiga partai berbeda, yaitu Masyumi, NU, dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

 

Dalam jajaran pemerintahan, namanya terukir sebagai salah satu tokoh kunci sejarah Indonesia yang memegang tiga jabatan menteri strategis: Wakil Perdana Menteri, Menteri Koordinator Politik dan Keamanan, serta Menteri Sosial.

 

Di bidang legislatif, kontribusinya pun tak kalah luas, mulai dari menjadi anggota DPRD Kalimantan Selatan hingga duduk menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan Majelis Permusyawaratan Rakyat.

 

Kesuksesan karier politiknya tak lepas dari kemampuan luar biasa dalam memimpin Nahdlatul Ulama, organisasi Islam terbesar di Indonesia, melewati berbagai situasi, mulai dari masa yang penuh tantangan hingga saat yang menuntut keahlian tinggi.

 

Kyai Idham dikenal luas sebagai sosok moderat yang selalu menempatkan diri di tengah dan menjaga keseimbangan dalam setiap langkahnya.

 

Sifat santun dan rendah hati yang dimilikinya membuat beliau diterima oleh semua kalangan, baik dari lingkungan internal NU maupun dari luar organisasi tersebut.

 

Di tengah gejolak politik yang sangat dinamis pada masa awal kemerdekaan, ia berhasil membawa NU keluar dari berbagai ancaman krisis yang mengganggu keberlangsungan organisasi, sekaligus memperkokoh peran NU sebagai pendukung stabilitas bangsa yang baru lahir.

 

Beliau pula tercatat sebagai pemimpin termuda sekaligus yang menjabat paling lama dalam sejarah kepemimpinan NU.

 

Di bawah Arahnya, organisasi ini mengalami perkembangan pesat dan mampu tetap relevan serta adaptif menghadapi perubahan zaman tanpa pernah meninggalkan jati diri dan identitas keagamaannya.

 

KH. Idham Chalid dipercaya memegang tampuk pimpinan PBNU saat berusia 34 tahun, jabatan yang diembannya tanpa putus hingga tahun 1984.

 

Setelah itu, tongkat estafet kepemimpinan diserahkan kepada KH. Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur.

 

Usai meninggalkan panggung politik praktis yang memperbesar namanya, sisa hidup KH. Idham Chalid habiskan bersama keluarga dengan mengelola Pesantren Darul Ma'arif yang berlokasi di Bilangan, Cipete.

 

Seluruh jejak pengabdiannya menjadi bukti nyata kontribusi besar beliau bagi umat Islam dan seluruh bangsa Indonesia.**

journal banua news